Kapan sih lebarannya?

Pertanyaan di atas selalu muncul setiap tahun menjelang Hari Raya Idul Fitri. Jawaban pastinya adalah tanggal 1 Syawal! Tapi kapankah tanggal 1 syawal itu? Besok? Lusa? Dua hari lagi? Tidak jarang, umat Islam di Indonesia merayakan Idul Fitri pada tanggal yang berbeda. Mengapa hal ini bisa terjadi? Singkat kata, karena dua organisasi masa Islam terbesar di Indonesia menggunakan pendekatan yang berbeda dalam menentukan awal puasa/lebaran, i.e. Rukyat vs Hisab. Jadi kapankah lebaran? Selama kita menggunakan rukyat sebagai dasar perhitungan kalender, maka kita tidak akan pernah tahu kapan lebaran kecuali sehari sebelum hari-H!

Tulisan ini akan membahas tentang fase-fase bulan, suatu standar kompetensi yang harus dikuasai siswa level 9 (3 SMP) dan bukan tentang tafsir Quran maupun Hadist. Walaupun penulis pernah menjadi imam di Masjidil Haram, Mekah *) tapi apalah saya dibanding para ulama. Jadi, tulisan ini murni sains. Namun karena timingnya tepat, saya akan sampaikan sedikit pengantar mengenai penentuan awal/akhir puasa (Ramadhan), agar ada justifikasi mengenai penggunaan sains dalam hal ini.

Ayat Quran yang sering dijadikan patokan dalam menentukan awal puasa adalah Surat Al Baqarah Ayat 185, yang berbunyi, “…..Karena itu, barangsiapa di antara kamu menyaksikan (datangnya) bulan (Ramadhan) itu maka berpuasalah.”. Oleh sebagian ulama, kata menyaksikan (dalam bahasa Quran tertulis syahida) diartikan melihat, oleh karena itu mereka menggunakan rukyat untuk menentukan tanggal 1 Ramadhan/ Syawal. Sebagian lagi menerjemahkan kata syahida (menyaksikan), seperti dalam kata” aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah”, tidak harus melihat (dengan mata)., maka mereka menggunakan hisab (perhitungan) untuk menentukan 1 Ramadhan/Syawal. Terlepas pendapat mana yang benar, seharusnya hasil perhitungan dan penglihatan adalah sama! (kecuali kalau ada halangan)

Para ahli bisa menghitung secara persis kapan akan terjadi gerhana, dan para observer bisa dengan tepat melihat gerhana benar-benar terjadi. Kenapa dalam hal hilal hasil perhitungan dan penglihatan bisa berbeda? Nah di sinilah artikel ini akan mencoba menjelaskan.

Seperti kita ketahui, cahaya bulan yang kita lihat adalah cahaya dari matahari yang dipantulkan oleh bulan. Sama seperti bumi, pada setiap waktu, separuh dari permukaan bulan tersinari oleh matahari. Namun demikian, bagian yang disinari matahari tidak selalu terlihat dari bumi. Tergantung posisi bulan terhadap bumi, kita akan melihat bentuk bulan berubah-ubah dari bentuk bulan sabit muda, setengah lingkaran, purnama, bulan sabit tua dan seterusnya. Berikut ini gambar yang saya ambil dari Nasa.

Pertanyaannya adalah? Pada fase bulan manakah dimulai bulan baru? Apakah saat bulan gelap sama sekali (100% gelap), ataukah saat bulan purnama (100% terang), atau ada ketentuan lain? Sebetulnya, bisa saja kita buat kesepakatan sendiri mengenai kapan disebut bulan baru. Namun, dalam hal ini di dalam Quran (QS 2:189) dikatakan penanda waktunya adalah hilal (bulan sabit). Jadi bulan baru dimulai ketika muncul bulan sabit (hilal).

Permasalahan selanjutnya adalah menentukan bulan sabit yang seperti apakah hilal itu? Apakah ketika 1% permukaan terang? 2%? 3% ataukah ada patokan lainnya? Di sinilah akar permasalahan kenapa hasil perhitungan (hisab) sering tidak cocok dengan hasil penglihatan (rukyat). Pada saat bulan muda, selain bulan sabit yang sangat tipis, penampakannya juga cuma sebentar, hal ini mengakibatkan sangat sulit melihat hilal yang seperti itu. Kalau saja kita bisa tentukan bahwa awal bulan adalah ketika bulan sabitnya sebesar 10% luas permukaan bulan, tentu kemungkinan besar hisab dan rukyat akan sama.

Berikut ini adalah animasi real foto kedudukan bulan, bumi dan matahari selama satu bulan kalender qomariyah. Di pojok kanan atas terdapat bentuk bulan yang terlihat dilihat dari bumi. Silakan klik play kalau belum jalan, kemudian klik pause ketika anda yakin telah melihat hilal. Pada detik ke berapakah dari animasi tersebut anda melihat hilal (awal bulan)?. Pada saat itu berapakah sudut yang dibentuk antara bulan, bumi dan matahari?

Sangat mudah kita melihat hilal dalam animasi ini? Dalam kondisi real, bulan yang masih terlalu muda (kecil sekali sabitnya), mungkin bagi pengamat yang terlatihpun akan kesulitan melihatnya bahkan dengan alat bantu teropong sekalipun. Secara perhitungan sains, manusia sudah bisa secara akurat menentukan posisi bulan saat ini. Contohnya adalah gambar di bawah ini yang menunjukan fase bulan saat ini (real time).

CURRENT MOON

Perhatian! Gambar di atas tidak menjelaskan posisi bulan apakah di atas horison atau di bawah horison. Jadi walaupun saat ini tergambar ada bulan sabit, misalnya, tetapi bisa jadi bulan sabit itu tidak terlihat di sini, karena tenggalam di bawah horison bumi atau karena sedang tengah hari bolong. Mungkin di di tempat lain di permukaan bumi bisa melihat bulan tersebut.

Kembali ke.... laptop!

Jadi, menurut opini saya, harusnya antara hisab dan rukyat menghasilkan tanggal yang sama! (hey, kita bisa menghitung dengan sangat akurat!). Saya mendukung hisab karena semuanya akan menjadi lebih mudah terkait perencanaan. Dan yang menyebabkan saat ini terjadi perbedaan antara perhitungan (hisab) dengan penglihatan (rukyat), karena kriteria yang digunakan oleh pendukung hisab terlalu kecil sehingga bagi yang ingin merukyat, bulan tersebut belum tentu terlihat dengan jelas. Agar supaya lebaran bisa bareng, maka pendukung rukyat harus menerima hisab dan pendukung hisab harus mengubah kriteria bulan baru sehingga dapat dipastikan kalau rukyat bulan tersebut pasti terlihat (wallahu’alam, cmiiw).