Deduksi dan Induksi

Pengambilan kesimpulan deduktif dilakukan dengan mengambil premis yang umum dan kemudian diberlakukan ke kasus spesifik. Sedangkan induktif, sebaliknya, dari beberapa kasus spesifik dibuat kesimpulan generalisasinya.

Deduktif

Cara deduktif sangat sederhana, selama premis general nya benar, maka kita bisa ambil kesimpulan kasus spesifiknya juga benar selama kasus spesifik tersebut adalah bagian dari premis general.

Contoh:

Premis 1: Semua rakyat Indonesia cinta tanah air

Premis 2: Saya adalah rakyat Indonesia

Kesimpulan : Saya cinta tanah air.

Induktif

Cara induktif mengambil kesimpulan umum dari kasus-kasus spesifik, disebut juga generalisasi. Cara ini adalah cara yang paling beresiko, karena kalau tidak hati-hati maka kita bisa salah dalam mengambil kesimpulan. Contohnya adalah dalam berita ini http://news.metrotvnews.com/read/2014/12/18/333532/jokowi-kenapa-sih-semua-suka-bu-susi, Bapak Presiden ketemu beberapa nelayan dan langsung membuat kesimpulan induksi bahwa semua suka Bu Susi.

Metode induksi memang yang paling sulit dan paling banyak disalah gunakan. Contoh lain, dari beberapa kasus terorisme dibuat generalisasi bahwa Islam identik dengan terorisme.

Dan yang paling menghebohkan baru-baru ini adalah kasus "larangan" jilbab shar'i yang berawal dari satu kasus BUMN dan kemudian dibuat generalisasi menjadi semua BUMN dan bahkan berkembang liar menjadi kementerian BUMN.

Pengambilan kesimpulan secara induktif memang bukanlah hal yang mudah, walaupun kita bisa mengumpulkan banyak kasus tetapi belum tentu kita bisa mengeneralisir. Misalnya hewan mamalia : sapi, kerbau, kuda, harimau, gajah semuanya hidup di darati. Tetapi kita tidak bisa mengeneralisir bahwa semua hewan mamalia hidup di darat (Ikan paus adalah mamalia yang hidup di air)

Jika kita bisa menunjukkan satu saja kasus yang tidak sesuai, maka induksi tersebut dinyatakan gagal.