Bagaimana Membuat Kesimpulan Yang Benar?

Alkisah suatu madrasah di Depok kedatangan seorang dosen tamu, seorang ahli matematika yang bernama Matsur. Berikut percakapannya mereka di ruang guru:

Guru1 : "Pak Matsur hari ini materi yg akan disampaikan tentang apa?"

Matsur : "Tentang Silogisme!"

Guru1 : "Waduh, apa itu silogisme?"

Matsur : "Begini, ... hmm... apakah bapak piara kucing di rumah?"

Guru1 : "Ya, kami piara kucing"

Matsur : "Silogisme adalah salah satu cara mengambil suatu kesimpulan. Karena bapak piara kucing, dan secara statistik hampir semua yang pelihara kucing adalah anak-anak, maka kemungkinan besar Bapak punya anak. Dan kalau bapak punya anak maka berarti bapak punya istri. Dan karena bapak punya istri maka kesimpulannya Bapak adalah lelaki normal"

Setelah memberi penjelasan tersebut Pak Matsur masuk ke ruang kelas untuk memberikan pelajaran tentang silogisme. Nggak lama kemudian datang guru yang lain (guru2)

Guru2  : "Itu tamu kita hari ini mau mengajar apa?"

Guru1 : "Silogisme!"

Guru2 : "Apa tuh silogisme?"

Guru1 : "Begini,.... situ piara kucing nggak?"

Guru2 : "Nggak!"

Guru1 : "hmm... berarti kamu homo" (keterangan : jump to conclussion)

Tentu saja percakapan di atas adalah percakapan fiktif, tetapi kasus seperti ini banyak dijumpai dalam diskusi-diskui di media sosial akhir2 ini: tidak menggunakan kaidah-kaidah pengambilan kesimpulan yang tepat.

Berikut ini beberapa contoh pengambilan kesimpulan yang salah:

Contoh yang salah Penjelasan
Kamu mengkritik Jokowi, berarti kamu sapi jump to conclusion. Tidak ada premis pendukung
Kamu senang masuk got. Tikus juga senang masuk got. Berarti kamu tikus Kalau A maka C dan kalau B maka C, tidak ada teori yang mengatakan kesimpulan A = B
   

 

Mengapa Banyak Yang Salah Ambil Kesimpulan

Ada tiga kemungkinan yang menyebabkan seseorang salah ambil kesimpulan, yaitu:

  1. Premisnya salah. Premis adalah pernyataan yang dianggap benar dan menjadi dasar pengambilan keputusan. Misalnya, kita mengambil judul suatu berita dan langsung membuat kesimpulan. Padahal bisa saja berita tersebut salah.
  2. Metode pengambilan kesimpulannya yang salah, seperti contoh di atas. Premisnya sudah benar, tetapi penarikan kesimpulannya yang salah. Hal ini bisa terjadi karena ketidaktahuan prinsip2 logika atau karena emosional. Diskusi yang emosional cenderung mengabaikan kaidah-kaidah logika karena tujuannya adalah menghancurkan lawan
  3. Memang sengaja membuat kesimpulan yang salah. Ini dilakukan oleh orang2 jahat, termasuk media massa dalam rangka penggiringan opini.

Selain kesalahan dalam pengambilan kesimpulan, yang seringkali terjadi juga adalah kesalahan dalam mengambil suatu ingkaran. Seperti kita ketahui ingkaran dari suatu kalimat matematika adalah lawan dari kalimat tersebut. Ingkaran digunakan untuk membantah suatu premis. Lengkapnya silakan baca jika-jokowi-presiden-rupiah-bisa-tembus-rp-10000

Supaya kita tidak salah dalam berargumentasi, perlu dikenali beberapa dasar-dasar pengambilan kesimpulan yang benar menurut aturan logika. Dalam tulisan ini saya akan menuliskan 5 bentuk pengambilan kesimpulan, yaitu:

  1. Modus Tollen
  2. Modus Ponen
  3. Silogisme
  4. Deduktif
  5. Induktif

Nanti dilanjut yah abis nonton MU

Lanjut ke tulisan berikut yah -> http://www.rustamaji.net/id/matematika/modus-tollens-dan-modus-ponen