Berapa Tinggi Gedung Itu?
Pada suatu waktu saya pernah ditanya oleh seorang guru, "Pak Rustam, kalau kita ikutin standar isi Diknas, materi Matematika SMP banyak sekali. Bisa tidak kita pilih hanya materi yang kira-kira memang bermanfaat buat siswa". Lha, menurut saya, semua bermanfaat. Orang Diknas tentu tidak sembarangan menyusun SK dan KD Matematika SMP.
Matematika dipelajari karena itu merupakan alat bantu untuk memahami pelajaran lainnya, khususnya sains. Makin banyak siswa menguasai materi matematika, maka makin banyak tools yang dia bisa manfaatkan untuk melakukan problem solving. Misalkan, apabila kita disuruh menghitung tinggi gedung Wisma BNI 46, menggunakan sebuah barometer. Bagaimana caranya? tentu tergantung "rumus" yang kita ketahui.


Buat anak SD kelas 3 yang baru belajar perkalian, mungkin yang dapat dibayangkan adalah menggunakan tinggi barometer tersebut sebagai ganti jengkalan tangannya, sehingga tinggi gedung tersebut = tinggi barometer dikali jumlah "jengkal". Saya yakin siswa tersebut akan mengalami kesulitan menghitung berapa jengkal tinggi gedung itu.
Untuk siswa SMP kelas 1 yang telah belajar skala dan perbandingan, mungkin mereka bisa memotret gedung tersebut, perkecil ukuran sesuai skala, kemudian bandingkan dengan ukuran barometer sebenarnya.
Namun untuk siswa SMP kelas 2 yang telah belajar tekanan udara, dia akan berusaha naik ke puncak gedung tersebut untuk mengukur tekanan udara di sana menggunakan barometer dan membandingkan dengan tekanan udara di bawah. Siswa SMP tahu bahwa ada hubungan antara tekanan udara dengan ketinggian. Dengan memperoleh selisih tekanan udara di puncak dan di dasar, maka dapat dihitung tinggi gedung tersebut.
Lain lagi dengan siswa SMA yang telah menguasasi GLBB. Mungkin dia akan naik ke atas gedung sambil membawa timer kemudian menjatuhkan barometer tersebut. Dari waktu yang dibutuhkan barometer untuk mencapai dasar, bisa dihitung tinggi gedung tersebut dengan rumus
. Tapi, sayang aja, barometernya harus pecah!
Anak SMA yang telah belajar trigonometri akan dengan gayanya mengukur sudut elevasi puncak gedung dengan barometer sebagai busur derajat. Dengan rumus sinus-cosinus dia akan menghitung tinggi gedung tersebut dengan sebelumnya mengukur jarak dia berdiri dengan gedung.
Mahasiswa Ekonomi mungkin menggunakan pendekatan yang berbeda untuk mengetahui tinggi gedung BNI 46. Dia akan datang ke Wisma BNI 46 mencari manager building sambil membawa barometer cantik itu, dan berkata "Pak Fulan, saya ingin tahu berapa tinggi gedung ini. Kalau Bapak berkenan memberi tahu saya, maka saya akan kasih hadiah barometer cantik ini". Hebat kan?
Lain lagi dengan orang IT, mungkin dia tidak perlu beranjak dari komputernya, cukup buka Internet, halaman google dan mengetik "Berapa tinggi Wisma BNI 46". Kemudian tekan enter, dan mendapatkan halaman ini dan langsung tahu bahwa tinggi Wisma BNI 46 adalah 228 meter. Lalu, barometernya bisa dia jual untuk tambah RAM. Lebih hebat lagi kan?
Intinya adalah, makin banyak ilmu kita, maka makin besar peluang kita dapat menyelesaikan problem dan bahwa semua ilmu itu suatu waktu akan ada manfaatnya. Well, tidak semua ilmu sih bermanfaat, makanya kita dianjurkan berdoa, "Ya Allah lindungi kami dari ilmu yang tidak bermanfaat". Tetapi sejauh yang saya ketahui, kalau urusan ilmu Matematika, Insya Allah semua akan bermanfaat.
Comments
Prasaan Familiar
"Ya Allah lindungi kami dari ilmu yang tidak bermanfaat"